Tradisi Unik Ruwat Desa Pagerngumbuk, Bupati Subandi Apresiasi Kearifan Lokal

oleh -44 Dilihat
oleh
Bupati Sidoarjo, Subandi, saat hadir dalam kegiatan ruwah desa Pagerngumbuk, Wonoayu. (Ist)

SIDOARJOSATU.COM – Pelaksanaan Ruwat Desa yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, pada Minggu 17 Mei 2026 kemarin, tak nampak berbeda dengan tradisi serupa di desa-desa lain.

Sebagai wujud rasa syukur, rangkaian kegiatan tetap diisi dengan pengajian, ziarah ke makam leluhur desa, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Seperti halnya apa yang disampaikan Bupati Sidoarjo, Subandi saat hadir saat kegiatan berlangsung. Ia mengatakan bahwa syukuran tersebut sebagai bentuk doa agar diberi kemudahan dan keselamatan bagi Pemdes serta warga setempat.

Baca juga: Empat Saksi Sekolah Kompak Mengaku Tak Tahu Proposal Pengadaan, Barang Bantuan Dindik Jatim Banyak Tak Terpakai

“Ruwat desa ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur agar desa dan warganya selamat, serta diberi kemudahan oleh Allah SWT,” ujar Bupati Subandi.

Selain itu, Ia menambahkan bahwa rasa syukur kita ucapkan kepada sang pencipta atas hasil bumi yang telah diberikan.

“Momen ini juga dapat mempererat silaturrahmi antar warga, khususnya Pemdes,” terangnya.

Bupati Sidoarjo juga mengapresiasi pelaksanaan ruwat desa tersebut. Menurutnya, tradisi ini merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki tujuan mulia.

Disisi lain, terdapat keunikan tersendiri dalam pelaksanaan tasyakuran Ruwat Desa Pagerngumbuk tahun ini. Perbedaannya bukan terletak pada tata cara doa, melainkan pada tradisi penyajian makanan yang sarat makna budaya.

Baca juga: Bupati Subandi Gandeng Swasta Percepat Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Sidoarjo

Selain puluhan nasi kuning dan belasan tumpeng raksasa berisi hasil bumi, warga juga menghadirkan sajian unik berupa puluhan amben atau tempat tidur bambu yang ditata memanjang menyerupai keranda.

Di atas amben tersebut, berbagai makanan disusun rapi lalu ditutup menggunakan jarik atau kain batik.

Selanjutnya, puluhan amben berisi hasil bumi itu diarak bersama-sama menuju Balai Desa Pagerngumbuk pagi.

Setibanya di balai desa, amben-amben tersebut berjajar rapi di sisi kanan dan kiri pendopo, sementara warga telah berkumpul menantikan dimulainya prosesi tasyakuran. (zal)

No More Posts Available.

No more pages to load.