SIDOARJOSATU.COM — Masa remaja bukan sekadar fase untuk belajar dan bersosialisasi. Bagi generasi perempuan, periode ini juga menjadi momentum penting untuk mempersiapkan kesehatan, pendidikan, karakter, hingga masa depan keluarga.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Arzetti Bilbina dalam zoom sosialisasi program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) bersama mitra kerja di SMA Raden Rahmat, Balongbendo, Sidoarjo, Kamis (17/9/2026).
Di hadapan para pelajar, Arzetti mengajak generasi muda, khususnya perempuan, tidak menyia-nyiakan masa pertumbuhan dengan memperbanyak pengetahuan, menjaga kesehatan, serta membangun pergaulan yang sehat.
Menurutnya, remaja perempuan memiliki posisi penting dalam membentuk generasi masa depan. Karena itu, mereka perlu dipersiapkan tidak hanya secara akademis, tetapi juga secara fisik, mental, sosial, dan karakter.
“Kalian harus tahu sekali dengan saling belajar dan sehat lahir batin. Terutama cara bergaul kita sebagai perempuan dan akan menjadi garda terdepan dalam sebuah rumah tangga,” ujar Arzetti.
Arzetti menekankan bahwa menjadi perempuan yang berkualitas membutuhkan bekal lebih dari sekadar pendidikan formal. Pengetahuan, keterampilan, kesehatan, serta kemampuan mengenali potensi diri juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan.
Ia mendorong para pelajar untuk terus belajar dan memperluas pergaulan, namun tetap memiliki batas serta kemampuan menjaga diri.
“Kalian boleh dikatakan dan bergaul dengan teman kita yang sama dan bergaul dengan luas. Kalau sekarang sudah memiliki itu tapi harus mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk menjadi perempuan yang cerdik,” katanya.
Selain pendidikan dan pergaulan, Arzetti mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan tubuh dengan mengonsumsi nutrisi yang baik. Menurutnya, kesehatan remaja menjadi salah satu modal penting untuk membentuk generasi yang berkualitas di masa mendatang.
“Karena memang itulah salah satu langkah yang harus kita lakukan agar kita ini sebagai perempuan ke depannya akan bisa melahirkan generasi-generasi cerdas, generasi pintar,” tuturnya.
Remaja Perlu Punya Rencana Masa Depan
Pesan tentang pentingnya perencanaan masa depan juga disampaikan perwakilan Kemendukbangga Provinsi Jawa Timur, Dra. Sofia Hanik. Ia menjelaskan bahwa pendidikan kependudukan dan kesehatan reproduksi perlu dikenalkan kepada remaja sejak di bangku sekolah. Salah satu wadahnya melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta program Sekolah Siaga Kependudukan (SSK).
“Sekolah Siaga Kependudukan itu adalah materi tentang kependudukan. Materi yang sudah ada di kurikulum tinggal diisi dengan materi masalah kependudukan,” jelas Sofia.
Menurutnya, materi kependudukan dapat diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran. Dengan demikian, pelajar tidak hanya memperoleh pengetahuan akademis, tetapi juga memahami persoalan kependudukan, kesehatan reproduksi, serta perencanaan kehidupan.
Sofia juga mengingatkan pelajar agar tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah. Ia menyebut, ketentuan pemerintah menetapkan usia minimal perkawinan bagi laki-laki dan perempuan adalah 19 tahun. Sementara dalam program kependudukan dan keluarga berencana, BKKBN memberikan rekomendasi usia ideal menikah, yakni 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki.
“Adik-adik harus punya cita-cita. Kapan saya harus selesai pendidikan? Setelah pendidikan selesai, saya harus merencanakan kapan saya bekerja. Setelah bekerja, saya harus merencanakan kapan saya menikah,” kata Sofia.
Menurut Sofia, pernikahan membutuhkan kesiapan yang tidak hanya berkaitan dengan usia. Pendidikan, ekonomi, psikologis, serta kemampuan menjalankan tanggung jawab dalam rumah tangga juga perlu dipersiapkan.
Sofia turut mengingatkan para remaja agar lebih bijak dalam pergaulan, termasuk saat menggunakan media sosial. Menurutnya, hubungan atau pergaulan yang tidak direncanakan dapat membawa konsekuensi panjang terhadap masa depan remaja. Salah satunya adalah risiko terjadinya perkawinan pada usia muda.
Ia mencontohkan kasus remaja di Sidoarjo yang pernah menjadi bahan pembelajaran dalam sebuah podcast di tingkat provinsi.
“Yang rugi adalah perempuan. Karena itu, adik-adik sekalian, kalau nanti bergaul dengan teman-temannya, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tandasnya. (SS-3)







