Dua Kisah Inspiratif di Wisuda UMAHA: Kisah Juyana Raih Sarjana Di Usia 60 Tahun, dan Dokter Spesialis Jadi Sarjana Hukum

oleh -54 Dilihat
oleh
Foto : Wisuda Magister, Sarjana, dan Diploma ke-24 Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) di Dyandra Convention Hal Surabaya, Sabtu, (7/11/2026).

SIDOARJOSATU.COM (Surabaya) – Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Usia bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita, sementara gelar dan profesi bukan pula tanda bahwa seseorang telah selesai menimba ilmu. Pesan itulah yang tergambar kuat dalam Wisuda Magister, Sarjana, dan Diploma ke-24 Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA).

Di antara 525 wisudawan yang mengikuti prosesi wisuda di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu (7/11/2026), terdapat dua sosok dengan perjalanan akademik yang menarik perhatian. Keduanya datang dari latar belakang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama: terus belajar dan mengembangkan diri tanpa mengenal batas.

Sosok pertama adalah Juyana, wisudawan Program Studi S1 Kewirausahaan yang berhasil meraih gelar sarjana di usia 60 tahun. Sementara sosok kedua adalah dr. Wahyu Nur Chalamsah Setiawan, M.Si.Med., Sp.B(K) Onk., seorang dokter spesialis bedah onkologi yang memilih kembali duduk di bangku kuliah untuk menyelesaikan pendidikan S1 Fakultas Hukum UMAHA.

Dua kisah tersebut menjadi warna tersendiri dalam wisuda kali ini. Juyana membuktikan bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Sedangkan dr. Wahyu menunjukkan bahwa seseorang yang telah memiliki profesi dan kompetensi sekalipun tetap membutuhkan ruang untuk memperluas wawasan keilmuan.

Baca juga : Ketua dan Jajaran Syuriah – Tanfidziyah MWC NU Taman Deklarasi Dukungan 100% Terhadap dr. Hidayatullah sebagai Calon Ketua PCNU Sidoarjo

Bagi Juyana, keberhasilannya mengenakan toga sarjana di usia enam dekade merupakan pencapaian yang patut disyukuri. Di tengah perjalanan hidup yang telah dilalui, ia masih menyimpan keinginan kuat untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kapasitas diri.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa sampai pada tahap ini dan mengikuti wisuda bersama para wisudawan lainnya. Bagi saya, usia 60 tahun bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru kita harus terus memiliki semangat untuk menambah ilmu dan mengembangkan kemampuan diri. Saya ingin membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk meraih cita-cita. Selama masih ada kemauan dan kesempatan, jangan pernah takut untuk memulai,” tutur Juyana.

Kisah berbeda datang dari dr. Wahyu Nur Chalamsah Setiawan. Di tengah kesibukannya menjalankan tanggung jawab sebagai dokter spesialis bedah onkologi, ia justru mengambil tantangan baru dengan menempuh pendidikan hukum.

Keputusan tersebut bukan sekadar untuk menambah gelar akademik. Baginya, pemahaman terhadap aspek hukum menjadi bagian penting dalam memperkaya perspektif profesional, terlebih dunia kedokteran juga bersinggungan dengan regulasi, hak, kewajiban, hingga persoalan hukum yang berkembang di masyarakat.

“Sebagai seorang dokter, saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang dan kebutuhan untuk belajar tidak pernah berhenti. Saya memilih menempuh pendidikan hukum karena ingin memperluas wawasan dan memahami aspek hukum dari perspektif yang berbeda. Menurut saya, pemahaman lintas disiplin sangat penting, karena dalam kehidupan profesional kita tidak hanya berhadapan dengan aspek keilmuan utama, tetapi juga berbagai aspek lain yang saling berkaitan,” ungkap dr. Wahyu.

Ia mengaku, pengalaman menjalani pendidikan di Fakultas Hukum UMAHA memberikan perspektif baru yang dapat memperkaya perjalanan akademik maupun profesionalnya.

“Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki. Gelar dan profesi bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya secara bijaksana dan memberikan manfaat bagi orang lain,” tambahnya.

Foto : Rektor Universitas Ma’arif Hasyim Latif, dr. Hidayatullah, Sp.N

Kisah Juyana dan dr. Wahyu mendapat apresiasi khusus dari Rektor UMAHA, dr. Hidayatullah, Sp.N. Ia mengaku bangga melihat keberagaman latar belakang para wisudawan, mulai dari mereka yang baru memulai perjalanan karier hingga para profesional yang kembali menempuh pendidikan tinggi

Menurutnya, keberhasilan Juyana menyelesaikan pendidikan sarjana di usia 60 tahun merupakan bukti nyata bahwa semangat belajar dapat terus tumbuh tanpa dibatasi usia.

“Alhamdulillah, cukup kagum ya. Dengan usia selanjut itu beliau bisa menyelesaikan kuliahnya. Tidak molor, sampai betul-betul menyelesaikan kuliahnya. Alhamdulillah,” ungkap dr. Hidayatullah saat ditemui seusai prosesi wisuda.

Ia juga mengungkapkan bahwa UMAHA mendapatkan kepercayaan dari kalangan profesional, termasuk dokter yang memilih melanjutkan pendidikan di kampus tersebut.

Bahkan, menurutnya, terdapat 11 dokter yang menempuh pendidikan di UMAHA. Salah satu yang menjadi perhatian adalah dokter spesialis yang telah memiliki kompetensi subspesialis, tetapi masih memiliki keinginan untuk memperluas keilmuan melalui pendidikan hukum.

“Artinya UMAHA cukup menarik dan dipercaya oleh para dokter. Bahkan, salah satu yang tadi memberikan kesan-kesan adalah seorang dokter spesialis yang sudah subspesialis, kemudian kuliah lagi di sini. Itu cukup membanggakan bagi saya,” tuturnya.

Rektor menjelaskan, salah satu kemudahan yang diberikan UMAHA kepada kalangan profesional adalah melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini memungkinkan pengalaman pendidikan dan profesional seseorang diakui sebagai bagian dari capaian pembelajaran.

Melalui mekanisme tersebut, pengalaman kerja, pelatihan, sertifikasi, maupun pendidikan sebelumnya dapat dinilai dan dikonversi menjadi satuan kredit semester (SKS) sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, mahasiswa tidak harus mengulang seluruh proses pembelajaran dari awal apabila kompetensi dan pengalaman sebelumnya telah memenuhi persyaratan pengakuan.

“Ada program RPL, Rekognisi Pembelajaran Lampau. Di mana kemudian akan dihitung selama ini beliau-beliau itu sudah kerja berapa tahun, sudah pernah ikut pelatihan apa saja, sertifikasi apa, atau kuliah saja. Sehingga kemudian akhirnya dikonversi dengan jumlah SKS. Nah, sisa dari SKS itu yang akan ditempuh selama kuliah,” jelasnya.

Ia menegaskan, kesempatan menempuh pendidikan di UMAHA terbuka bagi berbagai kalangan dan latar belakang profesi. Tidak hanya dokter, tetapi juga dosen, sarjana, maupun para profesional yang ingin meningkatkan kompetensi melalui bidang keilmuan lainnya.

Rektor: Jangan Takut Menghadapi Situasi Ekonomi

Di balik kebahagiaan wisuda, dr. Hidayatullah juga mengingatkan para lulusan agar tidak kehilangan optimisme dalam menghadapi tantangan kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Ia menyadari bahwa kondisi ekonomi, keterbatasan lapangan pekerjaan, serta persaingan kompetensi menjadi tantangan tersendiri bagi para lulusan perguruan tinggi saat ini.

Namun, menurutnya, para wisudawan tidak boleh larut dalam kekhawatiran. Mereka harus tetap bersyukur, berpikir positif, serta mampu menyesuaikan kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

“Jangan takut dengan keadaan saat ini, termasuk krisis ekonomi. Berpikir positif, insyaallah nanti akan ada jalan. Terus bersyukur selalu kepada Allah. Itu yang saya ingatkan. Ilmu yang kemarin didapat selama kuliah di UMAHA bisa diterapkan dengan sebaik-baiknya,” pesannya.

Selain kompetensi akademik, ia juga mengingatkan pentingnya adab sebagai bekal utama dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja. Menurutnya, kemampuan intelektual harus berjalan seiring dengan karakter, integritas, dan sikap yang baik.

Rektor juga mengajak para lulusan untuk memiliki fleksibilitas dalam menghadapi perubahan dunia kerja. Para sarjana tidak harus selalu terpaku pada satu bidang pekerjaan apabila kondisi yang ada menuntut penyesuaian.

“Bekal yang kemarin sudah didapat ketika kuliah, disesuaikan dengan kondisi saat ini. Perlu kemudian memaksakan diri yang sesuai bidang? Bisa jadi seperti itu. Jadi, fleksibilitas terhadap kondisi saat ini,” ungkapnya.

Ia berharap para lulusan mampu memanfaatkan ilmu yang telah diperoleh untuk menghadapi berbagai peluang dan tantangan, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai adab yang telah ditanamkan selama menjalani pendidikan di UMAHA. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.