Laportbc.Id, Sarana Kanal Aduan dan Umpan Balik Bagi Pasien TBC Yang Mengalami Stigma Buruk dan Diskriminasi

oleh -1253 Dilihat
Foto : Sosialisasi CBMF Laportbc.id" bertempat di Universitas Ma'arif Hasyim Latif (UMAHA) Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Senin, (28/8/2023).

Sidoarjosatu.com ; Organisasi Penyintas Tuberkulosis (OPT) Putih Jawa Timur menggelar sosialisasi “Community Based Monitoring Feedback (CBMF) – Laportbc.id” bertempat di Universitas Ma’arif Hasyim Latif (UMAHA) Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan yang melibatkan dinas kesehatan Sidoarjo, LBH, pasien TB SO dan TB RO bertujuan untuk memberikan edukasi kepada pasien TBC bagaimana cara melaporkan keluhan terhadap layanan, enabler, maupun stigma yang terjadi di masyarakat.

Ketua OPT Putih Jawa Timur, Erin Kusumawati mengatakan penanggulangan tuberkulosis di Indonesia sudah ada sejak dulu dan konsisten hingga sekarang. Meski pemerintah sudah mengeluarkan aturan tentang penanggulangan TBC, namun peran serta masyarakat, komunitas maupun stakeholder sangat dibutuhkan.

Menurut WHO, lanjut Erin, monitoring berbasis komunitas sangat efektif dalam memastikan kesetaraan kesehatan serta menangani bagaimana faktor penentu sosial kesehatan. Seperti Hak asasi manusia dan kesetaraan gender. Disamping itu, menerapkan layanan yang aman, berkualitas dan berpusat pada komunitas.

“Di Indonesia, ada beberapa hal yang menghambat proses penyembuhan pada pasien TBC. Salah satunya adalah stigma yang berkembang di masyarakat, keluhan terhadap layanan maupun enabler. Sehingga hal ini juga berdampak pada terlambatnya didiagnosa, tidak patuh berobat, hingga putus pengobatan,” ungkap Erin Kusumawati, Senin, (28/8/2023).

Menurutnya, faktor itulah yang akan menyebabkan penyebaran yang lebih luas ditengah masyarakat. Banyak sekali stigma yang berkembang di tengah masyarakat dan diskrimasi terhadap pasien TBC di lingkungan kerja. Seperti PHK Sepihak, memotong gaji tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku dan lain sebagainya.

“Hal ini lah yang menjadi faktor depresi dan kecemasan bagi pasien TBC. Nah, disini kita memberikan informasi kepada pasien terkait peraduan hukum, terutama jika ada kendala yang berkaitan dengan layanan pengobatan maupun diskrimasi di tempat kerja agar segera melapor ke laportbc.id),” jelasnya.

Laporan itu nantinya akan ditindaklanjuti oleh paralegal tbc yang tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Sidoarjo. Stigma buruk masyarakat yang disematkan kepada pasien TBC akan menghambat proses penyembuhan.

“Masyarakat kurang memahami TBC itu seperti apa, stigma yang muncul apakah penyakit tersebut bisa sembuh atau tidak, banyak yang meninggal karena TBC dan lain sebagainya. Nah, disinilah peran kami untuk aktif untuk memberikan sosialiasi kepada masyarakat bahwa penderita TBC bisa disembuhkan. Sehingga dibutuhkan kerjasama semua pihak terutama masyarakat untuk memberikan support kepada pasien,” tegasnya.

Sementara dr. Arif Rachman yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengungkapkan pemberantasan stigma buruk terhadap pasien TBC harus dilakukan. Mengingat akan dampak buruk yang terjadi pada pasien TBC.

“Yang paling banyak mereka alami adalah kesehatan mental atau stres dengan kondisi yang ada. Termasuk dilingkungan kerja. Hal ini yang banyak terjadi,” ujar dr. Arif Rachman.

Menurutnya, dukungan penyembuhan terhadap pasien TBC tidak hanya berasal dari tenaga kesehatan, semua pihak dapat memberikan kontribusi positif atas penyembuhan pasien TBC.

“Bantu pemerintah. Stop TBC, temukan, obati, lindungi mereka, dan bantu pengobatan sampai sembuh baik dari aspek kesehatan mental maupun moralitas. Kalau perlu kasih makanan (dukungan gizi) ke rumahnya (seperti saat covid-19). Jangan dikucilkan. Karena kalau mereka sembuh, lingkungan juga aman dari penyebaran TBC,” tandasnya. (Had).

No More Posts Available.

No more pages to load.