SIDOARJOSATU.COM – Pemandangan memprihatinkan terlihat di sepanjang jalan Desa Popoh, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Tumpukan sampah rumah tangga tampak menggunung di sisi jalan, bercampur dengan semak liar dan rumput liar, menciptakan kesan kumuh di jalur yang setiap hari dilintasi warga dan pengendara.
Pantauan di lapangan menunjukkan berbagai jenis limbah, mulai dari plastik, sisa makanan, hingga sampah rumah tangga lainnya, dibuang begitu saja tanpa pengelolaan. Selasa (3/2/2026).
Ironisnya, lokasi tersebut berada di ruang terbuka hijau dan area pertanian, yang seharusnya menjadi zona bersih dan produktif, bukan justru berubah menjadi tempat pembuangan liar.
Baca juga: Kasus Bullying SMK Swasta di Sidoarjo Berakhir Damai, Tanggung Jawab Sekolah Dipertanyakan

Kondisi ini tidak hanya merusak estetika lingkungan desa, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Keluhan datang dari para pengguna jalan yang setiap hari melintas di jalur tersebut. Lukman (38), seorang pengendara motor asal Wonoayu, mengaku sudah lama melihat kondisi itu dan merasa terganggu.
“Hampir tiap hari lewat sini. Sampahnya makin banyak, baunya kadang menyengat, apalagi kalau panas. Ini kan jalan umum, tapi rasanya seperti tempat pembuangan sampah,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Heri (47), pengendara lain yang kerap melintas sepanjang area persawahan maupun kebun tebu tersebut.
“Sudah ada papan larangan, tapi tetap saja orang buang sampah. Kalau dibiarkan terus, ini bisa jadi TPS liar permanen. Lingkungan rusak, jalan desa jadi kelihatan kumuh,” katanya.
Sampah yang menumpuk dapat menjadi sumber penyakit, sarang lalat, tikus, serta memicu pencemaran tanah dan air, terutama saat musim hujan tiba.
Lebih memprihatinkan lagi, keberadaan papan larangan membuang sampah yang terlihat di lokasi justru seperti tak lagi memiliki makna.
Realitas di lapangan menunjukkan lemahnya pengawasan, minimnya kesadaran warga, serta absennya penegakan aturan yang tegas dari pihak terkait.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa problem sampah di tingkat desa bukan semata soal perilaku masyarakat, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistem pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.
Tanpa penyediaan fasilitas pembuangan yang memadai, sistem pengangkutan rutin, serta edukasi lingkungan yang berkelanjutan, praktik pembuangan liar akan terus berulang.
Warga berharap Pemerintah Desa Popoh bersama stakeholder terkait segera turun tangan secara konkret, bukan sekadar imbauan.
Mulai dari penataan lokasi, penertiban, penyediaan TPS yang layak, hingga sanksi tegas bagi pelanggar, agar persoalan sampah tidak terus menjadi wajah buruk desa setempat di mata publik.
Jika dibiarkan, tumpukan sampah ini bukan hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi juga cermin lemahnya tata kelola desa dalam menjaga ruang hidup masyarakat.
Lingkungan yang sehat bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab kolektif yang menuntut kehadiran negara hingga ke level desa. (zal)





