SIDOARJOSATU.COM – Sebilah keris, mungkin tampak hanya sebagai pusaka yang tersimpan rapi dibalik lemari kayu atau diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun bagi pemerhati budaya, setiap lekuk bilah, guratan pamor, hingga warangka menyimpan cerita panjang terhadap peradaban, filosofi hidup dan jejak leluhur Nusantara.
Sayangnya, tidak semua kisah itu mampu bertahan melintasi zaman. Banyak keris berpindah tangan tanpa disertai catatan yang memadai. Nama empu pembuatnya terlupakan, asal-usulnya kabur, bahkan nilai sejarah yang melekat pada pusaka perlahan menghilang bersama bergantinya generasi.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Ethnic Indonesia resmi meluncurkan layanan Kuratorial dan Sertifikasi Keris Bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sebagai ikhtiar menjaga identitas sekaligus mendokumentasikan nilai sejarah setiap pusaka secara profesional.
Baca juga : Festival “Sidoarjo Culture in Harmony 2025” Semarakkan Pendopo Delta Wibawa
Pendiri Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi sekaligus Kurator Keris Bersertifikat BNSP, KRA Rivo Cahyono, mengatakan layanan ini bukan sekadar menghadirkan sertifikat, melainkan menjadi upaya menyelamatkan cerita yang selama ini tersembunyi di balik sebilah keris.
“Kami percaya bahwa sebuah keris bukan hanya sebilah besi. Di dalamnya terdapat perjalanan sejarah, filosofi, identitas budaya, hingga kisah para leluhur yang membentuk peradaban Nusantara,” ujar Rivo, Sabtu, (18/7/2026).
Melalui layanan tersebut, setiap keris akan menjalani proses kuratorial yang dilakukan secara kolektif oleh tiga kurator bersertifikat BNSP. Kajian dilakukan secara menyeluruh mulai dari aspek autentisitas, tangguh, dhapur, pamor, ricikan, warangka, nilai sejarah, hingga nilai budaya yang melekat pada pusaka tersebut.
Seluruh hasil kajian kemudian dituangkan dalam Sertifikat Kuratorial Ethnic Indonesia, yang menjadi dokumen ilmiah mengenai identitas sebuah keris. Sertifikat itu diharapkan menjadi rujukan bagi pemilik, kolektor, museum, akademisi, hingga para peneliti budaya.
Menurut Ethnic Indonesia, selama ini masih banyak pusaka yang berpindah kepemilikan tanpa disertai dokumentasi yang utuh. Akibatnya, informasi penting mengenai asal-usul keris perlahan memudar dan akhirnya hilang.
Baca juga : Resmikan Gubuk Praja Ananta Raya, Wabup Mimik Idayana: Pelestarian Budaya Tanggung Jawab Kita Bersama
Padahal, nilai sebuah keris tidak semata ditentukan oleh kelangkaan atau harga jualnya. Di balik setiap bilah terdapat perjalanan panjang tentang sang empu yang menempanya, lingkungan budaya tempat keris dilahirkan, hingga keluarga yang menjaganya selama puluhan bahkan ratusan tahun.
“Kami tidak ingin sertifikat dipandang sebagai alat untuk menaikkan harga sebuah keris. Yang jauh lebih penting adalah menjaga identitas, pengetahuan, dan cerita yang menyertainya. Ketika sebuah pusaka kehilangan ceritanya, sesungguhnya kita sedang kehilangan sebagian dari sejarah bangsa,” tegasnya.
Dalam layanan ini, Ethnic Indonesia melibatkan tiga kurator keris bersertifikat BNSP, yakni KRA Rivo Cahyono, Ilham Triadi, dan Harjo Herlambang. Ketiganya melakukan penilaian secara independen dengan mengedepankan objektivitas, integritas, serta tanggung jawab profesional dalam setiap proses kuratorial.
Lebih dari itu, Ethnic Indonesia berharap layanan ini mampu menjadi jembatan yang mempertemukan kolektor, pecinta budaya, museum, akademisi, hingga masyarakat umum untuk melihat keris bukan sekadar benda pusaka, melainkan sumber pengetahuan tentang sejarah, kebudayaan, dan identitas bangsa.
Selama ini, organisasi yang bergerak di bidang pelestarian budaya Nusantara tersebut aktif menggelar edukasi, penelitian, dokumentasi, pameran, hingga berbagai kegiatan sosial budaya. Melalui semangat “Melestarikan Pusaka, Menjaga Martabat Budaya,” Ethnic Indonesia ingin memastikan bahwa setiap pusaka tidak hanya tetap lestari secara fisik, tetapi juga tetap hidup melalui cerita dan pengetahuan yang menyertainya.
“Sebab pada akhirnya, ketika sebuah keris masih mampu bercerita tentang asal-usulnya, di situlah sejarah bangsa terus menemukan ruang untuk dikenang,” tandasnya. (Had).






