Dari Bengkel Sederhana, Ego Menyalakan Asa Warga Lewat Anyaman Besi

oleh -64 Dilihat
oleh
Foto : Suasana Bengkel las sederhana milik Ego yang terletak di Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, Senin, (3/8/2026).

Usaha kecil bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga bagaimana bisa menghidupkan ekonomi warga sekitar.”ungkap Ego Setyawan, Senin, (3/8/2026). 

SIDOARJOSATU.COM – Di saat banyak anak muda memilih meninggalkan desa demi mengadu nasib di kota, Ego Setyawan justru mengambil jalan berbeda. Pemuda berusia 36 tahun asal Desa Penambangan, Kecamatan Balongbendo, Kabupaten Sidoarjo, ini memilih tetap pulang dan membangun mimpi di kampung halamannya.

Dari sebuah bengkel las sederhana di Desa Mergosari, Kecamatan Tarik, Ego membuktikan bahwa tekad dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar mampu melahirkan perubahan nyata. Di balik suara percikan las dan kerasnya batangan kawat besi, ia tidak hanya menghasilkan perlengkapan rumah tangga, tetapi juga membuka harapan baru bagi puluhan warga desa yang sempat kehilangan pekerjaan.

Berbekal keyakinan bahwa desa memiliki potensi besar, Ego memulai usaha pembuatan berbagai produk berbahan kawat besi, seperti tempat alat makan, rak perlengkapan dapur, tempat alat mandi hingga jemuran besi yang kini mulai diminati pasar di luar daerah.

“Awalnya hanya usaha rumahan, namun saat ini alhamdulillah orderan semakin banyak,” ujar Ego.

Baca juga : Kisah Lansia, Pemulung Asal Sedati yang Akhirnya Mendapat Harapan Rumah Layak Huni dari Pemkab Sidoarjo

Pertumbuhan usaha tersebut membawa dampak langsung bagi masyarakat sekitar. Saat pesanan meningkat, bengkel miliknya mampu menyerap hingga 50 tenaga kerja. Sementara pada kondisi normal, sekitar 10 hingga 15 warga tetap memperoleh pekerjaan.

“Jika orderan sedang ramai bisa sampai 50 orang yang kerja. Namun jika sedang sepi, sekitar 10 sampai 15 orang saja yang bekerja,” ungkapnya.

Sebagian besar pekerja yang bergabung sebelumnya merupakan pemuda desa yang menganggur atau hanya bekerja serabutan. Ego tidak menjadikan pendidikan sebagai syarat utama. Sebaliknya, ia membekali mereka dengan keterampilan mengelas dan membentuk kawat hingga mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.

Baginya, keberhasilan usaha bukan hanya diukur dari omzet, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, dengan warga sekitar ikut bekerja, tercipta ikatan kekeluargaan yang erat di dalam bengkel. Semoga ini juga bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga mereka,” katanya.

Di tengah berkembangnya usaha, Ego juga menunjukkan komitmennya terhadap tata kelola bisnis yang profesional. Ia memilih mengurus legalitas usahanya melalui pendirian Perusahaan Perorangan agar memiliki kepastian hukum dan peluang berkembang lebih besar.

“Langkah ini kami ambil agar usaha memiliki payung hukum yang jelas, memudahkan kerja sama dengan mitra yang lebih besar, sekaligus membuka peluang untuk naik kelas. Usaha kecil pun harus taat hukum dan dikelola secara profesional,” jelasnya.

Meski demikian, Ego mengakui masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Penguatan manajemen keuangan, pemasaran digital, hingga inovasi desain produk menjadi pekerjaan rumah agar usahanya mampu bersaing di tengah perkembangan pasar yang semakin kompetitif.

Baca juga : Menguatkan Desa, Menginspirasi Indonesia: Rektor UMAHA Lepas Mahasiswa KKN 2026

Karena itu, ia berharap adanya pendampingan dari pemerintah, khususnya dinas yang membidangi perindustrian, koperasi, dan UMKM, agar pelaku usaha desa dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Kami berharap ada pendampingan agar usaha ini berjalan sesuai aturan dan bisa terus berkembang ke depannya,” pungkasnya.

Dari sebuah bengkel sederhana di pelosok desa, Ego Setyawan membuktikan bahwa keberhasilan bukan selalu lahir dari gemerlap kota. Dengan semangat gotong royong dan keberanian membangun dari desa, ia telah mengubah kawat besi menjadi jembatan harapan bagi banyak keluarga. (Had).

No More Posts Available.

No more pages to load.