SIDOARJOSATU.COM – Kisah pilu dialami tiga anak di Kabupaten Sidoarjo yang terancam kehilangan masa depan akibat himpitan ekonomi dan persoalan keluarga. MFZ (11), GPK (7), dan BG (3) kini hidup menumpang di rumah kakek-nenek mereka dalam kondisi serba kekurangan.
Untuk bertahan hidup, ketiganya bahkan kerap mengonsumsi nasi aking atau karak sebagai makanan sehari-hari.
Ketiga bocah tersebut asal warga Dusun Keling, Desa Jumputrejo, Kecamatan Sukodono. Namun, sejak sekitar setahun terakhir, mereka tinggal bersama kakek mereka, Jauri (63), dan nenek Sumarsih (60), di Dusun Maju RT 02 RW 01, Desa Tenggulunan, Kecamatan Candi, Sidoarjo.
Di rumah sederhana yang jauh dari kata layak huni itu, lima orang harus bertahan hidup dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari. Uang tersebut diperoleh Sumarsih dari pekerjaannya sebagai buruh rumah tangga.
Sementara itu, Jauri sudah tidak mampu bekerja lantaran menderita pengapuran pada kedua kakinya. Kondisi ekonomi yang memprihatinkan tersebut berdampak langsung pada pendidikan anak-anak.
Oleh karena itu, MFZ terpaksa putus sekolah sejak kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah. Sementara GPK, yang seharusnya duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar, berhenti sekolah sejak taman kanak-kanak.
“Pengen sekolah lagi, tapi nggak punya biaya,” ujar MFZ dengan lirihnya, Selasa (13/1/2026).
Jauri mengungkapkan, keberadaan orang tua ketiga cucunya tidak menentu. Sang ibu pergi tanpa kabar, sedangkan ayah mereka bekerja sebagai penjaga warung kopi di wilayah Porong dengan penghasilan yang pas-pasan.
“Yang penting anak-anak bisa makan dan sehat. Soal sekolah sebenarnya saya ingin mereka lanjut, tapi saya sudah tidak sanggup,” tutur Jauri dengan mata berkaca-kaca.
Kisah memilukan ini mendapat perhatian dari Pemerintah Desa Tenggulunan. Kepala Desa Tenggulunan, Akhmad Idom Maun, mengatakan pihaknya akan membantu pengurusan administrasi kependudukan serta berkoordinasi dengan instansi terkait agar hak pendidikan ketiga anak tersebut dapat terpenuhi.
“Kami akan membantu administrasi kependudukan dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar anak-anak ini bisa kembali bersekolah,” jelas Idom.
Ia menambahkan, keluarga Jauri sejatinya telah menerima sejumlah bantuan pemerintah, seperti Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), BPJS Kesehatan, serta program bedah rumah.
Namun, beban ekonomi keluarga semakin berat sejak harus menanggung kebutuhan hidup cucu-cucunya.
Pemerintah desa pun berjanji akan mengupayakan langkah lanjutan agar ketiga anak tersebut tidak terus kehilangan hak-hak dasar mereka, terutama hak untuk memperoleh pendidikan yang layak.(zal)





