SIDOARJOSATU.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo memaparkan capaian sekaligus tantangan sektor kesehatan sepanjang tahun 2025. Sejumlah indikator strategis menunjukkan tren membaik, mulai dari penurunan angka kematian ibu (AKI) hingga pengendalian stunting.
Namun, penyakit menular seperti HIV dan tuberkulosis (TBC) masih memerlukan penguatan penanganan berkelanjutan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menjelaskan bahwa pada tahun 2025 tidak dilakukan pengukuran stunting melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
Sebagai gantinya, pemantauan dilakukan menggunakan aplikasi ePPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat).
“Karena tahun ini tidak ada SSGI, maka pengukuran stunting menggunakan ePPGBM. Angka stunting di Sidoarjo tercatat sebesar 2,7 persen,” ujar dr. Lakhsmie, saat dihubungi melalui seluler pada Sabtu (3/1/2026).
Angka tersebut mencerminkan hasil pemantauan rutin berbasis layanan kesehatan dan peran aktif kader di lapangan yang diperbarui secara berkala.
Pada indikator kesehatan ibu, Sidoarjo mencatat capaian positif. Sepanjang 2025, angka kematian ibu (AKI) berada di angka 82,26 per 100.000 kelahiran hidup, menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 88,5 per 100.000 kelahiran hidup.
Penurunan ini menjadi sinyal positif dari penguatan layanan kesehatan ibu, mulai dari pemantauan kehamilan berisiko tinggi hingga peningkatan akses persalinan di fasilitas kesehatan.
Sementara itu, situasi HIV di Kabupaten Sidoarjo sepanjang 2025 mencatat 651 kasus baru. Dari jumlah tersebut, 93 pasien di antaranya merupakan penderita TBC, yang teridentifikasi melalui skrining terpadu HIV-TBC.
Menurut Lakhsmie, meningkatnya penemuan kasus HIV tidak terlepas dari strategi deteksi aktif yang terus diperluas oleh Dinkes.
“Kegiatan mobile VCT, layanan overtime di Pos Layanan HIV, serta penambahan jejaring layanan berkontribusi besar dalam penemuan kasus secara aktif,” jelasnya.
Selain itu, pada tahun 2025 Dinkes juga memperluas sasaran pemeriksaan HIV melalui Program Cek Kesehatan Gratis, dengan memasukkan calon pengantin sebagai kelompok sasaran baru.
Langkah tersebut ditempuh untuk memperkuat pencegahan penularan HIV sejak dini, khususnya dalam lingkup keluarga.
Meski terdapat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, Lakhsmie menegaskan bahwa kondisi HIV di Sidoarjo masih terkendali.
“Peningkatannya tidak signifikan dan bukan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir. Angka penemuan per bulan juga relatif stabil tanpa lonjakan tajam,” tegasnya.
Kemudian, untuk kasus tuberkulosis (TBC), hingga 31 Desember 2025 tercatat sebanyak 6.061 kasus di Kabupaten Sidoarjo.
Angka tersebut menunjukkan bahwa TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang membutuhkan perhatian serius, terutama melalui penguatan deteksi dini, kepatuhan pengobatan, serta integrasi layanan dengan program HIV.
“Kami berkomitmen memperkuat layanan promotif dan preventif, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kuratif demi mendorong derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik,” tandas Lakhsmie.
Baca juga: Jadi Tuan Rumah, H-2 Persida Masih Menanti Izin Stadion GDS Jelang Kick-off Liga 4 Musim 2025/2026
Ke depan, Dinkes Sidoarjo menaruh sejumlah harapan strategis, di antaranya menekan tren kasus baru HIV, mendorong setiap puskesmas menjadi sentra layanan komprehensif mulai dari skrining, edukasi hingga rujukan cepat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa tes HIV adalah hal yang aman, biasa, dan tidak perlu ditakuti.
Selain itu, Dinkes menekankan pentingnya penguatan pencegahan dibandingkan pengobatan, edukasi seks aman, penggunaan kondom, serta pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT) yang dilakukan lebih masif oleh tenaga kesehatan, kader, sekolah, komunitas hingga dunia kerja.
“Kami juga berharap keterlibatan komunitas, pesantren, sekolah, dan industri sebagai agen edukasi, serta terciptanya lingkungan yang empatik, tidak menghakimi, dan mendukung ODHA untuk menjalani terapi,” pungkasnya.
Dinkes juga mendorong puskesmas dan rumah sakit membangun budaya pelayanan yang bersahabat, humanis, dan menjunjung tinggi kerahasiaan pasien, dengan harapan angka infeksi baru di kelompok usia produktif dapat ditekan secara signifikan. (zal)





