dr. Hidayatullah Sp.N., Merawat Pengabdian dari Ruang Praktik hingga Ruang Akademik

oleh -22 Dilihat
oleh

Perjalanan seseorang dalam memimpin sebuah institusi sering kali dibentuk oleh pengalaman panjang di luar ruang kepemimpinan. Hal itu tergambar dalam perjalanan dr. Hidayatullah, Sp.N., yang menapaki karier di bidang kedokteran, pelayanan kesehatan, organisasi kemasyarakatan, hingga dipercaya menjadi Rektor Universitas Maarif Hasyim Latif (UMAHA) Sidoarjo periode 2023–2027. Senin, (26/10/2026). 

 

SIDOARJOSATU.COM – Lahir di Sidoarjo pada 1 Juni 1975, dr. Hidayatullah menempuh pendidikan kedokteran umum di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan lulus pada 2000. Ketertarikannya pada bidang medis berlanjut hingga pendidikan dokter spesialis saraf yang diselesaikannya pada 2013, juga di Universitas Airlangga.

Latar belakang tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya. Sebelum memasuki kepemimpinan perguruan tinggi, dr. Hidayatullah memiliki pengalaman panjang dalam pelayanan kesehatan, termasuk memimpin Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo pada 2013–2022. Ia juga pernah terlibat dalam pengelolaan rumah sakit serta kegiatan pendidikan di lingkungan YPM dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.

Pengalaman di bidang kesehatan mempertemukannya dengan beragam persoalan, mulai dari pelayanan masyarakat, tata kelola organisasi, hingga kebutuhan membangun sistem kerja yang berkelanjutan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu latar yang relevan ketika ia kemudian mengemban amanah sebagai pimpinan perguruan tinggi.

Baca juga : Ribuan Santri UMAHA Peringati Hari Santri Nasional : “Mengaji, Menjaga Tradisi, dan Meneguhkan Cinta Tanah Air”

Pengalaman di berbagai bidang menempatkan dr. Hidayatullah pada persimpangan antara profesi, organisasi, dan pendidikan. Pengalaman tersebut memberinya sudut pandang yang beragam dalam melihat persoalan pelayanan masyarakat dan pengembangan sumber daya manusia.

“Pengalaman di bidang kesehatan mengajarkan bahwa setiap pekerjaan pada akhirnya harus kembali pada kebutuhan manusia. Prinsip itu juga relevan dalam pendidikan. Kampus harus mampu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan yang bermanfaat bagi masyarakat,” papar dr. Hidayatullah.

Di luar profesi medis, dr. Hidayatullah juga aktif dalam sejumlah organisasi. Ia pernah memimpin Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Jawa Timur selama dua periode, menjadi bagian dari kepengurusan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Jawa Timur, serta terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat. Pengalaman lintas bidang itu memperlihatkan perjalanan karier yang tidak hanya bertumpu pada praktik profesional, tetapi juga pada pengelolaan organisasi dan kerja bersama.

Salah satu pengalaman yang menonjol adalah keterlibatannya dalam penanganan pandemi COVID-19. Berdasarkan riwayat kegiatannya, Hidayatullah menjadi Ketua Satgas COVID-19 NU Jawa Timur dan terlibat dalam upaya vaksinasi di lingkungan sekolah, kampus, pesantren, serta masyarakat. Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana keahlian profesional dapat bersinggungan dengan kebutuhan sosial yang lebih luas.

Kini, sebagai Rektor UMAHA, tantangan yang dihadapi berada dalam ranah berbeda, yakni bagaimana perguruan tinggi menjalankan perannya dalam pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan menjawab perubahan kebutuhan masyarakat. Peralihan dari lingkungan layanan kesehatan ke dunia akademik juga menghadirkan ruang bagi pengalaman manajerial dan pengabdian untuk diterapkan dalam konteks pendidikan tinggi.

Foto : Rektor UMAHA Sidoarjo, Dr. Hidayatullah, S.Pn. usai penandatanganan MoU bersama Founder Panji Integrasi Cergas, Mohammad Zainal Abidin bin Mohammad Tulus, Malaysia di gedung Universitas Ma’arif Hasyim Latif, Rabu, (20/5/2026).

Bagi perguruan tinggi, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan administrasi dan pelaksanaan program. Ada pula tanggung jawab untuk membangun lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa belajar, mengembangkan kemampuan, serta mempersiapkan diri menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.

Dalam konteks tersebut, perjalanan dr.  Hidayatullah menjadi menarik untuk dilihat bukan semata-mata dari jabatan yang pernah diemban, melainkan dari pertemuan antara pengalaman sebagai dokter, pengelola layanan kesehatan, aktivis organisasi, dan pimpinan perguruan tinggi.

Pengalaman di berbagai bidang menempatkan Hidayatullah pada persimpangan antara profesi, organisasi, dan pendidikan. Namun, keberhasilan kepemimpinan perguruan tinggi pada akhirnya tidak cukup diukur dari perjalanan pribadi seorang rektor.

Ukurannya juga terletak pada kualitas proses pendidikan, ruang berkembang yang tersedia bagi mahasiswa dan dosen, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Di sinilah kepemimpinan perguruan tinggi memiliki relevansi yang lebih luas. Kampus bukan hanya tempat berlangsungnya kegiatan akademik, melainkan juga ruang untuk membangun kompetensi, karakter, dan kepekaan sosial generasi muda.

Perjalanan dr. Hidayatullah dari dunia kedokteran menuju kepemimpinan UMAHA menjadi gambaran tentang bagaimana pengalaman profesional dapat dibawa ke ruang pengabdian yang berbeda. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan pengalaman tersebut menjadi kerja kelembagaan yang konsisten, terukur, dan berdampak bagi sivitas akademika maupun masyarakat. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.