Harapan Baru dari Rumah Tak Layak : Kisah Nur Hayati Menanti Sentuhan Perbaikan

oleh -408 Dilihat
oleh
Foto : Bupati Sidoarjo, H. Subandi saat mengunjungi rumah Nur Hayati, di kawasan Dusun Tempuran, Desa Tarik, Minggu, (31/8/2025).

SIDOARJOSATU.COM – Siang itu, Minggu (31/8), langkah Bupati Sidoarjo H. Subandi terhenti di depan sebuah rumah sederhana di Dusun Tempuran, Desa Tarik. Dari luar, rumah itu tampak renta dimakan usia. Atapnya rapuh, beberapa kayu penyangga sudah patah, dan dindingnya kusam tak terawat.

Rumah itu milik Nur Hayati, seorang janda dengan tiga anak yang selama bertahun-tahun tinggal dalam kondisi serba kekurangan.

Nur Hayati menyambut bupati dengan senyum getir. Wajahnya menyimpan rasa lelah, namun matanya berbinar saat mendengar kabar bahwa rumahnya akan diperbaiki lewat program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Baca juga : Sidak Pasien TB, Pemkab Bantu Pengobatan sekaligus Bantu Bedah Rumah Lewat Program RTLH

“Seneng sekali, sudah lama rusak,” ucapnya singkat, seolah kalimat itu sudah mewakili beratnya beban yang ia tanggung selama ini.

Sudah lebih dari sepuluh tahun, ia hidup dengan rumah yang jauh dari kata layak. Setiap hujan turun, bocor di sana-sini membuatnya resah. Rasa takut semakin besar ketika kayu penyangga atap mulai rapuh.

“Saya khawatir kalau sampai roboh,” katanya lirih.

Kondisi rumah tanpa kamar mandi layak menambah kesulitan hidupnya. Selama ini, ia hanya menggunakan ember plastik untuk menampung air setiap kali ingin mandi. Dengan tubuh yang kini ringkih usai terserang stroke, kesulitan itu terasa semakin berat.

“Kamar mandi ya cuma pakai bak (ember),” ucapnya pelan.

Sejak suaminya meninggal sembilan tahun lalu, Nur Hayati harus menghidupi anak-anaknya seorang diri. Suaminya yang dulu bekerja serabutan hanya mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tanpa pernah ada kesempatan memperbaiki rumah yang rusak. Kini, tanpa sandaran hidup, Nur Hayati benar-benar tak berdaya.

Melihat kondisi itu, Bupati Subandi menegaskan bahwa pemerintah tak boleh tinggal diam. Ia memastikan renovasi rumah Nur Hayati dan satu warga lainnya, Toyah di Desa Kedungbocok, segera dilakukan.

“Pemerintah akan terus turun, jangan sampai ada warga kita yang rumahnya tidak layak huni karena pemerintah tidak hadir,” tegasnya.

Menurut Subandi, jika perbaikan rumah masih bisa ditangani Baznas Sidoarjo dengan dana Rp 20–25 juta, maka pengerjaannya segera dilakukan. Namun jika membutuhkan biaya lebih, Pemkab siap turun tangan dengan anggaran Rp 30 juta.

Bagi Nur Hayati, kabar itu menjadi secercah harapan di tengah kepenatan hidup. Rumah reyot yang selama ini ia khawatirkan, sebentar lagi akan berubah menjadi tempat tinggal yang layak untuk dirinya dan anak-anak.

Di teras rumahnya yang teduh namun rapuh, Nur Hayati tersenyum sambil menatap langit-langit rumah yang bolong. Senyum itu bukan sekadar bahagia, melainkan doa dan rasa syukur bahwa akhirnya pemerintah benar-benar hadir di tengah deritanya. (Had).

No More Posts Available.

No more pages to load.