Tekan Risiko Banjir, Bupati Sidoarjo Tinjau Normalisasi Sungai Mbah Gepuk

oleh -369 Dilihat
oleh
Foto : Bupati Sidoarjo saat meninjau normalisasi sungai Mbah Gepuk, Jumat, (20/6/2025).

SIDOARJOSATU.COM — Dalam upaya menanggulangi banjir tahunan di wilayah Tanggulangin dan Candi, Bupati Sidoarjo H. Subandi, bersama sejumlah pejabat daerah dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (DPUBMSDA) menyusuri aliran Sungai Mbah Gepuk pada Jumat (20/6/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah percepatan program normalisasi sungai yang selama ini menjadi titik rawan banjir saat musim hujan tiba.

Dengan mengenakan rompi lapangan dan sepatu boot, Bupati Subandi menyusuri bantaran sungai dan memantau langsung kondisi lapangan. Ia menegaskan, kegiatan ini penting untuk mengetahui secara pasti penyebab tersumbatnya aliran air di sejumlah titik.

“Banyak aliran sungai yang mengalami pendangkalan akibat tumbuhan liar seperti eceng gondok dan kangkung. Ini yang menyebabkan air tidak mengalir lancar. Maka, hari ini saya pastikan pengerjaan normalisasi akan terus dikebut,” ujar Subandi.

Menurut Subandi, pengerukan dan pembersihan sungai akan difokuskan pada wilayah langganan banjir seperti Tanggulangin, Candi, dan Porong. Ia juga memastikan pembangunan DAM (bendungan) di kawasan Kedungpeluk sebagai langkah jangka panjang pengendalian banjir.

“Pemenang proyek sudah ada, tinggal pelaksanaannya. Kami akan kontrol terus biar sungainya bersih. Paling tidak, tahun depan tidak ada lagi banjir. Kalau anggaran kurang, kami siapkan lewat PAK (Perubahan Anggaran Keuangan),” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur, lanjut Subandi, juga telah mengucurkan dana sebesar Rp 37 miliar untuk mendukung program ini.

“Dengan dana sebesar itu, harapannya persoalan banjir di Sidoarjo bisa ditangani tuntas dan tidak berulang di tahun-tahun mendatang,” katanya.

Fokus 6 Kilometer, Dikerjakan Bertahap

Kepala DPUBMSDA Sidoarjo, Dwi Eko Saptono, menyampaikan bahwa peninjauan lapangan dilakukan di aliran sungai Sidokepuh yang membentang dari Ngaban hingga Kedungpeluk, dengan total panjang mencapai enam kilometer. Untuk tahap awal, normalisasi difokuskan sepanjang dua kilometer dari Ngaban hingga Balonggabus.

“Pengerjaan tahap pertama akan dilakukan selama dua minggu. Lalu, dilanjutkan tahap kontraktual sepanjang 3,8 kilometer dari Balonggabus hingga jembatan Kedungpeluk pada bulan Juli,” ujar Dwi Eko.

Pengerjaan meliputi pengerukan endapan lumpur serta pembersihan tanaman liar yang selama ini menyumbat aliran sungai. Selain itu, pemerintah pusat juga telah menyiapkan dua unit pompa di Ketapang dan Siring guna mempercepat aliran air pada musim penghujan.

Dwi Eko menjelaskan, banjir yang sempat menggenangi Jalan Raya Porong lebih disebabkan oleh curah hujan ekstrem dan kontur tanah yang landai serta mengalami penurunan permukaan.

“Curah hujan saat itu mencapai 114 mm dalam tiga jam. Ini sudah masuk kategori ekstrem. Kapasitas sungai kita saat ini maksimal menampung hingga 70 mm. Selebihnya pasti meluap ke pemukiman dan jalan,” ucapnya.

Meski pengelolaan sungai besar menjadi kewenangan pemerintah pusat, Pemkab Sidoarjo tetap melakukan pendampingan teknis.

“Sungai Sidokepuh ini mengalir langsung ke laut, jadi di bawah balai pusat. Tapi kami bantu secara operasional agar dampaknya tidak dirasakan masyarakat,” kata Dwi Eko.

Ia menegaskan, kapasitas sungai di kawasan padat penduduk seperti Tanggulangin dan Candi harus dioptimalkan, terutama menjelang musim penghujan. “Kami pastikan aliran air tidak lagi tersumbat. Ini bentuk komitmen kami dalam mengurangi risiko banjir di Sidoarjo,” pungkasnya. (Had).

No More Posts Available.

No more pages to load.